SPLU Fast Charging Bakal Adopsi Teknologi dari Luar Negeri

Karyawan melintas di samping unit Stasiun Penyedia Listrik Umum (SPLU) di Gedung Perusahaan Listrik Negara (PLN) Gambir, Jakarta, beberapa waktu lalu. SPLU ini sebagai sarana untuk mengkomodasi kebutuhan listrik masyarakat, serta pencegahan dari maraknya aksi pencurian listrik./ JIBI/Bisnis Indonesia - Felix Jody Kinarwan
26 Juni 2019 09:22 WIB Ni Putu Eka Wiratmini Otomotif Share :

Harianjogja.com, JAKARTA—PT PLN (Persero) mulai mengadakan lelang untuk pengadaan stasiun pengisian listrik umum daya cepat atau fast charging yang diikuti sejumlah vendor dengan teknologi terbaru dari luar negeri. Tepatnya, Eropa dan Korea Selatan. 

Direktur Bisnis Regional Jawa Bagian Barat Haryanto WS mengatakan sebagian besar atau 80% teknologi yang diterapkan pada stasiun pengisian listrik umum (SPLU) adalah dengan waktu pengisian normal yakni mencapai enam jam. SPLU jenis ini cenderung memiliki harga yang lebih murah dibanding jenis pengisian daya cepat.

Sementara, SPLU fast charging biasanya hanya dipakai kalangan terbatas karena harga unit yang mahal. Setidaknya satu unit SPLU fast charging dibanderol dengan harga Rp1 miliar hingga Rp2 miliar.

Menurutnya, PLN berencana memasang SPLU fast charging sebagai dukungan akan pengunaan kendaraan listrik yang mampu menurunkan emisi karbon di Indonesia. Terlebih, peraturan presiden (perpres) mengenai Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai akan segera dirilis. "Nanti kami akan pasang di beberapa lokasi," katanya, Selasa (25/6).

 Akhir 2019

General Manager PLN Unit Induk Distribusi Jakarta Raya Ikhsan Asaad mengatakan saat ini pihaknya masih memilih teknologi yang akan diterapkan untuk SPLU tersebut. Setidaknya sejumlah vendor dengan teknologi Eropa dan Korea tertarik untuk menyediakan unit SPLU fast charging sesuai harapan PLN.

PLN menarget SPLU fast charging tersebut akan terealisasi hingga akhir 2019. Ada dua titik yang rencananya menjadi lokasi pemasangan SPLU tersebut dengan investasi total senilai Rp4 miliar. "Kita harus memilih SPLU yang bisa mengakomodasi semua jenis kendaraan, dengan waktu charging [pengisian] sekitar 20 menit sampai 30 menit," katanya.

Hingga saat ini, di wilayah Jakarta Raya, telah terdapat 1.800 SPLU dengan hampir 50% penggunanya merupakan pedagang kaki lima. Pemilik kendaraan listrik, yang masih tergolong rendah di Jakarta dinilai menjadi alasan rendahnya pemanfaatan SPLU tersebut oleh motor maupun mobil.

SPLU fast charging merupakan salah satu upaya meningkatkan layanan kepada pengguna kendaraan listrik. Fast charging station memungkinkan pemilik kendaraan listrik mengisi daya dengan waktu cepat. Misalnya, pemilik mobil listrik dengan daya baterai 200 Kwh akan mampu melakukan pengisian daya dengan fast charging station berkapasitas 160 kwh selama 30 menit saja.

Sumber : Bisnis Indonesia