Advertisement

Warga RI Masih Pikir-Pikir Pakai Mobil Listrik, Kemenkeu Ungkap Alasannya

Jaffry Prabu Prakoso
Jum'at, 29 Juli 2022 - 04:27 WIB
Sirojul Khafid
Warga RI Masih Pikir-Pikir Pakai Mobil Listrik, Kemenkeu Ungkap Alasannya Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto mengendarai mobil listrik usai Penyerahan Mobil Listrik untuk Mendukung Kegiatan Presidensi G20 di Indonesia tahun 2022 di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Rabu (24/11/2021). Hyundai menyerahkan 42 unit mobil listrik, yang akan digunakan sebagai kendaraan resmi delegasi Presidensi G20 Indonesia pada tahun 2022. ANTARA FOTO - M Risyal Hidayat

Advertisement

Harianjogja.com, JAKARTA—Kementerian Keuangan mengutarakan beberapa faktor yang membuat peralihan menggunakan mobil listrik di Indonesia terhambat. Analis Kebijakan Madya Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, Miftahudin, mengatakan meski pada dasarnya konsumen tak masalah beralih ke mobil listrik. Hal ini terutama apabila mobil listrik bisa mengurangi biaya energi.

Berdasarkan riset yang dilakukan Pike Research pada 2009, dua dari tiga konsumen bahkan tak segan membayar lebih apabila mobil listrik lebih hemat. Itu sebabnya edukasi konsumen jadi salah satu hambatan.

“Konsumen masih menganggap mobil listrik khususnya di Indonesia masih banyak kekuarangan. Di antaranya adalah sebaran listrik di Indonesia belum merata. Di Jawa surplus, tapi di beberapa pulau ada yang tidak stabil,” kata Miftahudin pada diskusi di Jakarta, Kamis (28/7/2022).

Miftahudin menjelaskan bahwa tantangan selanjutnya adalah harga mobil listrik yang tidak terjangkau. Harganya yang selangit membuat mobil tersebut hanya bisa dimiliki 5 persen dari penduduk Indonesia.

BACA JUGA: Pernah Dijajal Jokowi, Mobil Listrik Mitsubishi MiEV Segera Hadir di Indonesia

Lalu, masih terbatasnya stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU). Investasinya, tambah Miftahudin, tidak semasif pada industri kendaraan listrik.

“Karena biaya pembuatan 1 SPKLU lumayan mahal. Paling tidak butuh Rp1 miliar. Rp1 miliar kalau konsumen hanya ada 1.000 kendaraan, tentu tidak balik modal dalam jangka waktu yang masuk akal,” ujarnya.

Hambatan terakhir adalah evolusi teknologi kendaraan listrik. Miftahudin menerangkan bahwa teknologi dari baterai, tempat pengecasan, hingga motornya berbeda-beda.

“Kita harus berhati-hati ketika memilih satu teknologi yang paling pas di Indonesia. Itu bukan perkara yang mudah apakah kita akan membuat model dari perusahaan A atau dari perusahaan B,” ungkapnya.

BACA JUGA: Suzuki Kilas Balik dari 27 Tahun Silam, Ini Kisi-kisi Baleno Terbaru

Advertisement

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Streaming Starjoja FM
alt

"Penyakit" Persebaya Kambuh, Aji Santoso Minta Maaf

Sepakbola
| Minggu, 14 Agustus 2022, 21:07 WIB

Advertisement

alt

Menikmati Pemandangan Tujuh Gunung dari Ngablak Magelang

Wisata
| Jum'at, 12 Agustus 2022, 13:57 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement