VW Perkirakan Produksi Mobil 2022 Bakal Turun Akibat Kelangkaan Chip

Volkswagen. - Antara/Reuters
20 Desember 2021 12:47 WIB Khadijah Shahnaz Otomotif Share :

Harianjogja.com, JAKARTA -  Volkswagen memprediksikan, produksi mobil akan lebih sedikit pada tahun 2022 dikarenakan masalah pasokan semikonduktor (chip) yang sedang berlangsung.

Dilansir dari Manager Magazin Jerman, ada beberapa produsen mobil yang mengurangi pengiriman kendaraan 202 pekan lalu menjadi 9 juta dari 9,3 juta, hal ini pun untuk mempersiapkan kemungkinan bahwa kekurangan chip saat ini dapat berlangsung setidaknya hingga awal 2023.

Laporan tersebut memperkirakan pengiriman mobil VW dapat turun menjadi 8 juta mobil tahun depan. Bahkan jika semuanya berjalan relatif baik, pengiriman bisa sedikit di bawah tahun ini, kata laporan itu.

Adapun ketika ditanya terkait laporan tersebut, Volkswagen menolak mengomentari laporan tersebut, menyatakan pihaknya memperkirakan sedikit pelonggaran situasi pasokan pada 2022, tapi, paruh pertama tahun ini akan tetap sangat tidak stabil.

Pembuat mobil lain termasuk BMW dan Daimler mengatakan mereka memperkirakan masalah chip akan berlanjut hingga 2022, dengan BMW mengkonfirmasi kepada Reuters bahwa mereka tidak mengharapkan krisis mereda hingga paruh kedua tahun depan.

Baik membeli chip komputer langsung dari produsen, mengkonfigurasi ulang mobil, atau memproduksinya dengan suku cadang yang hilang, banyak membuat mobil menjadi kreatif untuk mengatasi kekurangan global yang diperkirakan akan berkurang pada awal tahun depan.

Audi Volkswagen, yang bersama Skoda memperpanjang liburan Natal hingga 10 Januari karena hambatan pasokan, mengatakan pihaknya memperkirakan situasi akan berlanjut selama berbulan-bulan.

"Kami berharap akan disibukkan dengan krisis ini selama berbulan-bulan di tahun mendatang. Kelangkaannya bisa berlangsung lebih lama lagi," ujar sumber 

Porsche, yang juga dimiliki oleh Volkswagen, mengatakan pada bulan November krisis menyoroti kebutuhan pembuat mobil untuk mengambil produksi ke tangan mereka sendiri. 

"Siapa pun yang percaya krisis chip akan mereda tahun depan, keliru," kata CEO Oliver Blume kepada Boersen-Zeitung dari Jerman.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia