Pemerintah Kembangkan Proyek Sepeda Motor Bekas Jadi Kendaraan Listrik

Direktur PT Volta Indonesia Semesta, Willty Awan didampingi Walikota Semarang Hendrar Prihadi (kedua kanan) dan Brand Ambassador Volta, Deddy Corbuzier (tengah) berfoto bersama seusai peresmian Pabrik Motor Listrik Volta di Kawasan Industri Candi Semarang, Kamis (11/11/2021). (Bisnis - Alif)
17 November 2021 21:57 WIB Rayful Mudassir Otomotif Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengembangkan proyek konversi sepeda motor bekas menjadi kendaraan listrik.

Menteri ESDM Arifin Tasrif mengatakan bahwa pemerintah melakukan percobaan konversi sepeda motor konvensional menjadi motor listrik. Hal ini melihat potensi motor bekas di Indonesia mencapai 130 juta unit.

“Ada 130 juta motor yang beroperasi. Usianya macam-macam ada yang lebih 10 tahun, yang 10 tahun ini bisa diganti dengan motor listrik,” katanya saat webinar Youth Camp for Future Leader on Environment, Selasa (16/11/2021).

Pengembangan proyek konversi kendaraan berbahan bakar minyak menjadi motor listrik ini telah diuji coba pada 10 kendaraan. Pada tahap ini, seluruh kendaraan telah mendapat sertifikasi dari instansi terkait.

“Tahun depan kita coba motor di Kementerian ESDM ada 100 unit,” terangnya.

Lebih lanjut, Arifin menyebutkan bahwa pengetahuan terkait konversi ini perlu disebarkan kepada pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Mereka diharap dapat mengambil peran dalam kampanye ini.

Pemerintah telah melakukan pendekatan dengan industri untuk memproduksi baterai dan konverter dengan harga murah. Hal ini diyakini akan mempercepat pengembangan proyek tersebut.

“Tentu ke depan Indonesia bisa membangun kendaraan roda dua dengan merek kita sendiri. Saat ni sudah ada beberapa contoh, tapi mereka menghasilkan motor baru,” tuturnya.

Kementerian melihat potensi memperpanjang masa pakai kendaraan bekas ini masih terbuka lebar. Analisa pemerintah menyebutkan konversi ini dapat menurunkan biaya bahan bakar dari Rp300.000 per bulan menjadi sekitar Rp75.000 - Rp80.000 per bulan.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia