Mobil Listrik Ancam Lebih dari 90 Industri Komponen

Perakitan baterai untuk mobil listrik. - Bloomberg
16 Oktober 2021 23:17 WIB Reni Lestari Otomotif Share :

Harianjogja.com, JAKARTA — Gabungan Industri Alat Mobil dan Motor (GIAMM) menghadapi tantangan besar dengan pergeseran industri otomotif menuju era mobil listrik dan motor listrik. Ketua Umum GIAMM Hamdani Zulkarnaen Salim mengatakan dari 195 anggota, sekitar setengahnya akan terdampak disrupsi kendaraan listrik

"Baik dia akan hilang atau harus mengubah desain komponen-komponennya. Yang jelas 47 persen anggota kami harus sangat waspada mempersiapkan diri mulai dari hari ini," kata Hamdani dalam webinar, Jumat (15/10/2021).

Namun demikian, dia mengatakan anggota GIAMM masih optimistis untuk dapat membuat komponen lama meski harus melakukan penyesuaian.

Bagi sektor industri yang akan sangat terdampak, seperti produsen mesin, memang diperlukan langkah cepat untuk melakukan peralihan. Hamdani mengatakan para anggota GIAMM tengah gencar mencari rekanan untuk mengembangkan teknologi yang dibutuhkan di industri otomotif era elektrifikasi.

Tantangan lain yakni desain dari baterai kendaraan roda empat yang saat ini umumnya masih dikembangkan secara mandiri oleh pabrikan otomotif. Hal ini menyebabkan perbedaan desain baterai di setiap jenis mobil.

"Itu menjadi tantangan tersendiri buat kami. Kami lebih suka kalau baterai itu menjadi suatu barang yang standar, siapapun bisa membuat dan mobil apa pun bisa memakai merek yang berbeda," lanjutnya.

Model ekosistem seperti itu sudah diberlakukan pada kendaraan roda dua, melibatkan sejumlah pabrikan otomotif di Jepang. Hamdani menilai industri komponen otomotif dalam negeri lebih dapat berkiprah dengan ekosistem yang fleksibel seperti itu.

Dia pun mengungkapkan, dari segi kesiapan masih banyak hal yang perlu dikejar oleh industri komponen otomotif. Diperlukan penguasaan teknologi, investasi yang besar, dan kompetensi SDM yang andal. Industri komponen, lanjutnya, cenderung mendorong elektrifikasi Indonesia terlebih dahulu melalui tahapan hybrid sehingga memberi kesempatan pelaku untuk beradaptasi.

"Utamanya karena kami ingin punya waktu untuk bisa membangun kompetensi lebih dulu," ujarnya.

Sumber : JIBI/Bisnis.com