Indonesia Akan Punya 900.000 Stasiun Pengisian Baterai Mobil Listrik

Pekerja melakukan proses pemurnian dari nikel menjadi feronikel di fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) Pomalaa milik PT Aneka Tambang (ANTAM) Tbk., di Kolaka, Sulawesi Tenggara, Selasa (8/5/2018). - JIBI/Nurul Hidayat
18 September 2021 05:27 WIB Rayful Mudassir Otomotif Share :

Harianjogja.com, JAKARTA — Indonesia Battery Corporation (IBC) diminta membangun 900.000 stasiun pengisian baterai dan 6.000 fast charging station untuk kendaraan listrik hingga 2035. 

Target itu disampaikan Direktur Hubungan Kelembagaan MIND ID Dany Amrul Ichdan saat memberikan materi pada saat webinar Mineral for Energy beberapa waktu lalu. 

“Ke depan akan terus dikembangkan dengan target 900.000 medium charging station yang dibangun,dan 6.000 fast charging station di tahun 2035,” katanya, Selasa (13/9/2021). 

IBC dibentuk oleh empat BUMN yaitu Mining and Industry Indonesia (MIND ID), PT Pertamina (Persero), PT PLN (Persero), dan PT Aneka Tambang (Antam), Tbk.

Saat ini, IBC memiliki 32 titik stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) di 22 spot dan 33 titik stasiun penukaran baterai kendaraan listrik umum (SPBLU) di sejumlah wilayah di Indonesia. 

Pembangunan status pengisian dan penukaran baterai itu dilakukan oleh Pertamina dan PLN. Menurut Dany, tiap perusahaan memiliki tugas masing-masing membangun ekosistem industri kendaraan listrik Tanah Air.  

Staf Khusus Menteri ESDM Bidang Percepatan Pengembangan Industri Sektor ESDM Agus Tjahajana mengatakan bahwa IBC akan menjadi pemain dunia pada 2027. Perusahaan itu disebut telah memiliki strategi hingga 2027 mencapai target tersebut.

Pada 2021–2023, IBC akan memulai pembangunan pabrik hulu seperti smeslter dan pabrik pelebuhan. Kemudian membangun konstruksi pabrik baterai untuk kendaraan roda dua dan Energy Storage System (ESS) serta manufaktur electric vehicle (EV) skala kecil dengan sel baterai impor. 

Kemudian pada 2024–2026, IBC ditargetkan menjadi pemain global untuk material mentah serta pemain di tingkat regional untuk EV baterai. Upaya ini ditempuh dengan konstruksi pengolahan baterai untuk memenuhi persyaratan kendaraan baterai roda dua dan empat serta ESS. 

Pada periode yang sama, IBC akan memulai produksi hulu serta meningkatkan produksi manufaktur EV untuk kebutuhan domestik. 

Terakhir pada 2027, IBC ditargetkan berekspansi menjadi pemain EV baterai dunia dan di tingkat regional.  Langkah diikuti dengan ekspansi kapasitas hulu dalam skala global, perluasan kapasitas pabrik baterai untuk roda dua dan empat serta ESS untuk skala global.  

IBC juga akan memasok EV baterai untuk pasar domestik, regional dan global serta pendirian pabrik daur ulang untuk skala global dan regional pada 2027.

“Kalau semuanya selesai, IBC bisa menyumbangkan sekitar US$25 miliar untuk GDP, bisa menyerap 23.000 orang [tenaga kerja] dan untuk trade balance sekitar US$9 miliar. Ini kalau sukses,” katanya saat webinar Mineral for Energy, Jumat (10/9/2021). 

Pemerintah berharap apabila rencana tersebut berjalan sesuai rencana, Indonesia akan menjadi hub Asean dan dapat mengekspor sekitar 340.000 unit kendaraan listrik untuk Asean pada 2030. Upaya ini akan memakan investasi sekitar US$15,3 miliar. 

Sumber : JIBI/Bisnis.com