Pabrikan Mobil Hibernasi, Penjualan Bisa Turun 90%

Deretan mobil baru di terminal mobil, di Pelabuhan Tanjung Priok. - JIBI/Nurul Hidayat
20 April 2020 07:47 WIB Dionisio Damara Otomotif Share :

Harianjogja.com, JAKARTA—Pabrikan mobil diprediksi “hibernasi" untuk beberapa bulan ke depan karena melambatnya permintaan, baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

Bob Azam, Direktur Administrasi, Korporasi dan Hubungan Eksternal PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), mengatakan sesuai dengan prediksi McKinsey, perang melawan Covid-19 akan memakan waktu tiga-empat bulan. Akibatnya, pelemahan penjualan mobil diperkirakan semakin dalam.

"Penjualan akan turun sampai dengan 90 persen, setelah itu memulai pemulihan butuh waktu sembilan hingga 12 bulan tergantung negara masing-masing. Dan, setelah itu akan ada akselerasi demand," ujarnya saat dihubungi Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI), Minggu (19/4).

Dia juga menyimpulkan secara rata-rata, kondisi pasar sepanjang 2020 akan menyusut ke level 50% dibandingkan tahun lalu. Hal itu sejalan dengan proyeksi Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) yang merevisi target penjualan menjadi 600.000 unit, dari sebelumnya 1,1 juta unit.

Sementara dari sisi ekspor, Bob mengatakan tak banyak yang bisa dilakukan TMMIN untuk mengakselerasi kinerja pengapalan di tengah krisis virus Corona yang disebutnya memiliki dampak setara dengan Great Depression pada 1929-1939.

Dia menyatakan krisis membuat banyak negara tujuan ekspor menangguhkan aktivitas pabrik, salah satunya penutupan pabrik Toyota di Vietnam. Kondisi itu pun dipastikan mengganggu pengapalan kendaraan secara terurai lengkap atau completely knock down (CKD) dari TMMIN.

Toyota Vietnam menghentikan sementara operasional pabriknya mulai 30 Maret sampai dengan waktu yang tidak ditentukan. Pengaktifan kembali akan dipengaruhi sejumlah faktor, antara lain eskalasi penyebaran virus, permintaan pasar, supply chain, dan aturan pemerintah.

Berdasarkan data Gaikindo, TMMIN mengekspor total 11.730 unit set CKD ke Vietnam, Mesir, Malaysia, Filipina, dan Pakistan sepanjang Januari-Maret 2020. Pada periode tersebut, ekspor ke Vietnam menyentuh angka 2.750 unit. "Pasti kami menyesuaikan terhadap produksi yang disesuaikan dengan permintaan di negara tujuan ekspor. Tidak hanya Vietnam, tetapi hampir semua negara tujuan ekspor menutup akses logistiknya," ujar Bob.

Menyikapi kondisi itu, Bob mengatakan tidak ada yang bisa dilakukan TMMIN apabila hilir dari rantai distribusi mengalami kemacetan. "Jadi sekarang hibernasi dulu figthing dengan Covid-19," ucapnya.

Sumber : Bisnis Indonesia