Kalangan Atas Jadi Tumpuan Sektor Otomotif

Deretan mobil baru di terminal mobil, di Pelabuhan Tanjung Priok. - JIBI/Nurul Hidayat
15 April 2020 07:22 WIB Fatkhul Maskur Otomotif Share :

Harianjogja.com, JAKARTA—Pandemi virus Corona yang melanda dunia dan Indonesia memberikan dampak buruk pada berbagai sektor, termasuk industri otomotif. Pelaku usaha di sektor ini pun mulai mengubah strategi penjualan.

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad menilai industri otomotif kini hanya bisa berharap dari kalangan menengah ke atas, sedangkan kalangan menengah ke bawah sudah kesulitan. Tauhid menjelaskan berdasarkan data, terdapat 4,8% penurunan konsumsi rumah tangga sehingga konsumsi untuk kebutuhan otomotif akan dikesampingkan. "Konsumsi rumah tangga, saya kira saat ini siapa yang mau membeli konsumsi untuk nonmakanan," kata Tauhid Ahmad melalui wawancara virtual bersama Forum Wartawan Otomotif, Jumat (10/4) malam. "Jadi, industri otomotif masih berharap dari konsumsi orang menengah ke atas. Kalau menengah ke bawah sudah tidak mungkin," jelas Tauhid Ahmad.

Tauhid menilai pandemik Corona juga memengaruhi strategi penjualan produsen otomotif. Konsumen loyal menjadi target utama penjualan otomotif ketimbang pegawai bergaji tetap. Alasannya, minat membeli dari kalangan pegawai terganggu dengan ketidakstabilan konsumsi selama Corona dan kecemasan tidak mendapat gaji ke-13.

"Misalnya sekarang, gaji pegawai tetap hampir keseluruhan ada yang terganggu. Contoh PNS mulai digoyang oleh golongan lain yang tetap mendapat gaji 13 untuk tunjangan hari raya (THR), tetapi golongan empat atau pejabat di atasnya akan berkurang, jadi akan berdampak untuk pembelian," kata dia. "Artinya, kemampuan mereka untuk membeli, termasuk kredit juga akan berdampak," kata dia.

Untuk itu, Tauhid Ahmad menilai harapan industri otomotif Indonesia untuk saat ini adalah kalangan menengah atas dan kelompok swasta. "Pada konsumsi berbagai sektor mulai berdampak, tetapi mungkin pada level menengah atas dan pekerja swasta masih punya harapan. Jika lihat secara umum, pasti turun daya beli," terang dia.  

Masa Recovery

Tauhid memprediksi masa pemulihan akan terjadi pada bulan ketujuh (Oktober) setelah kasus Corona pertama masuk Indonesia pada Maret 2020. "Ketika Covid itu mendekati titik bawah atau tidak ada kasus sama sekali, orang akan mulai aktivitas normal. Ekonomi mulai kembali dan pemerintah mulai mengurangi pembatasan dan pabrikan mulai berproduksi, kalau kita proyeksi bulan ketujuh mulai recovery," kata dia.

Pemulihan bisa terjadi pada bulan ketujuh itu dengan syarat pemerintah dan segenap pemangku kepentingan lain mengambil langkah cepat dan tanggap untuk membenahi sektor yang terdampak.

"Seperti China, pabrik mulai buka ketika tidak ada kasus baru. Roda ekonomi mulai bergerak, jadi mungkin waktu naik ya Oktober-November dan mungkin industri otomotif baru mulai leluasa," kata dia. "Nah ini tergantung lagi ya, kalau masih masih naik (kasus Corona) sampai Juni ya makin akan mundur lagi," terang dia.

Ia menyebut ada langkah yang ekstrem untuk memulihkan roda perekonomian agar kembali normal.

"Kebijakan paling ekstrem memang lockdown, tetapi APBN kita pasti tidak mampu untuk membiayai sekitar 108 juta masyarakat yang harus dibantu. Pemerintah juga harus menambah dana lebih dari Rp405 triliun untuk ini," kata dia.

Prediksi Indef pada Sektor Otomotif

  • Berdasarkan data, ada penurunan konsumsi rumah tangga sebesar 4,8%.
  • Masyarakat lebih memilih kebutuhan primer.
  • Sektor otomotif lebih memilih pembeli loyal daripada pegawai bergaji tetap.
  • Minat pegawai terganggu karena ada ketidakstabilan konsumsi dan kecemasan soal THR.
  • Kelompok menengah atas dan swasta masih ada harapan.
  • Berkacaa kasus di China, situasi diprediksi pulih pada bulan ketujuh dari kasus pertama Corona di RI atau pada Oktober 2020.
  • Situasi berubah jika sampai Juni masih ada pasien Corona.

Sumber: JIBI

Sumber : Bisnis Indonesia