Kenaikan Harga BBM Tak Pengaruhi Penjualan City Car

23 Juni 2013 22:03 WIB Otomotif Share :

 

[caption id="attachment_418962" align="alignleft" width="276"]http://www.harianjogja.com/baca/2013/06/23/kenaikan-harga-bbm-tak-pengaruhi-penjualan-city-car-418959/mobil-murah-ilustrasi-2" rel="attachment wp-att-418962">http://images.harianjogja.com/2013/06/mobil-murah-ilustrasi1.jpg" alt="" width="276" height="183" /> Ilustrasi.dok[/caption]

JAKARTA-Bursa kendaraan bekas kategori city car dan multi purpose vehicle kelas bawah tetap semarak dan relatif tidak terimbas dampak penaikan harga banyan bakar minyak bersubsidi yang mulai diberlakukan akhir pekan lalu.

Kendaraan bekas jenis city car seperti Honda Jaz dan Toyota Yaris serta MPV kelas bawah yaitu Avanza, Xenia dan Ertiga tersebut memberikan kotribusi terbesar terhadap total penjualan hampir seluruh showroom dan pasar khusus mobil seken.

Harjanto Kosasih, Manager Senior Pemasaran Bursa Mobil Bekas WTC Mangga Dua, membenarkan jenis kendaraan yang relatif hemat konsumsi bahan bakar paling banyak diburu pembeli mobil bekas menyusul penaikan harga BBM bersubisidi.

"Kedua jenis kendaraan city car dan low MPV relatif tidak terpengaruh kenaikan harga BBM bersubsidi, dan bahkan memberikan banyak kontribusi terhadap total penjualan mobil bekas di WTC Mangga Dua hingga pekan ketiga Juni 2013 sebanyak 2.500 unit," katanya di Jakarta, Minggu (23/6/2013)

Menurutnya, pada Sabtu dan Minggu, hari pertama dan kedua diberlakukannya penaikan harga BBM bersubsidi untuk premium naik 44,4% dari Rp4.500 menjadi Rp6.500 per liter dan solar sebesar 22,2% dari Rp4.500 menjadi Rp5.500 per liter, terlihat banyak dilakukan transkasi.

Dengan banyaknya transaksi, lanjutnya, angka penjualan mobil bekas di WTC Mangga Dua sampai akhir bulan ini dapat menembus 2.700 unit, meningat pencapaian penjualanya hingga pekan ketiga sudah mencapai lebih dari 2.500 unit.

Dia mengatakan penaikan harga BBM bersubsidi lebih banyak berimbas terhadap kendaraan dengan kapasitas mesin besar 2.000 Cc ke atas, yang tingkat konsumsi bahan bakarnya jauh lebih banyak, sehingga angka penjualan cenderung menurun sejak beberapa bulan lalu.

"Penurunan penjualan kendaraan bekas dengan kapastias mesin besar terlihat sejak beberapa bulan lalu, ketika agen tunggal pemegang merek mengobral diskon untuk pemelian mobil baru, kemudian disusul isu rencana kenaikan harga BBM bersubsidi," katanya.