Gaikindo Harapkan Mobil Murah Bisa Diproduksi Juli 2013

19 Juni 2013 21:14 WIB Redaksi Solopos Otomotif Share :

[caption id="attachment_417584" align="alignleft" width="150"]http://www.harianjogja.com/baca/2013/06/19/gaikindo-harapkan-mobil-murah-bisa-diproduksi-juli-2013-417582/mobil-murah-ilustrasi" rel="attachment wp-att-417584">http://images.harianjogja.com/2013/06/mobil-murah-ilustrasi-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /> Ilustrasi.dok[/caption]

JAKARTA-Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) berharap mobil murah ramah lingkungan atau "low cost and green car" (LCGC) bisa mulai diproduksi pada Juli 2013.

"Kami mengharapkan pada akhir Juli atau awal Agustus 2013 bisa memulai produksi mobil murah ramah lingkungan tersebut," kata Ketua Gaikindo Sudirman MR di sela-sela acara Diskusi Kelompok Penyusunan Platform Kebijakan Industri Nasional di Jakarta, Selasa (19/6/2013).

Ia mengatakan, hingga saat ini pihaknya masih menunggu peraturan teknis terkait LCGC yang akan dikeluarken oleh Kementerian Perindustrian, agar para produsen otomotif bisa segera mengajukan aplikasi.

"Kami harapkan proses aplikasi tidak terlalu lama, kurang lebih satu bulan saja untuk memperoleh persetujuan, sehingga kami bisa segera memproduksi LCGC," ujarnya.

Sudirman mengatakan, hingga saat ini sudah ada enam perusahaan otomotif yang menaruh minat pada program pemerintah tersebut. Beberapa perusahaan tersebut adalah Daihatsu, Toyota, Suzuki, Nissan, Honda dan Mitsubishi.

"Mereka sudah menyatakan berminat dan selalu mengikuti pembicaraan dengan Kementerian Perindustrian, namun apakah mereka akan mengajukan aplikasi untuk LCGC, masih tergantung dari kebijakan mereka sendiri," katanya.

Menurut dia, salah satu produsen seperti Daihatsu, sudah mampu memiliki kapasitas produksi untuk LCGC sebanyak 10.000 unit per bulan yang saat ini masih dipergunakan untuk memproduksi Daihatsu Xenia.

"Sementara untuk bahan bakar, kendaraan yang diproduksi sesungguhnya diperuntukkan untuk konsumsi bahan bakar non-subsidi atau yang memiliki oktan tinggi," kata Sudirman.

Ia menjelaskan, kendaraan yang menggunakan bahan bakar subsidi tersebut sesungguhnya berisiko untuk mengurangi daya tahan mesin.

Selain itu, lanjut Sudirman, LCGC yang nantinya akan diproduksi tersebut masih dikhususkan untuk pasar dalam negeri, dan hingga saat ini belum ada rencana untuk menjangkau pasar luar negeri.

"Jika pasar dalam negeri sudah sukses, dan kapasitas produksi lebih, baru kami akan melihat peluang ekspor," ujar Sudirman.

Beberapa waktu lalu, pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2013 tentang Barang Kena Pajak yang Tergolong Mewah Berupa Kendaraan Bermotor yang dikenai Pajak Penjualan Atas Barang Mewah.

Dalam pasal 3 ayat 1(c) tersebut menyatakan bahwa untuk mobil hemat energi dan harga terjangkau, Pajak Penjualan atas Barang Mewah atas Barang Kena Pajak sebesar 0 persen dariharga jual.

Pajak 0 persen tersebut untuk motor bahan bakar cetus api dengan kapasitas silinder 1.200 cc dan konsumsi bahan bakar minyak paling sedikit 20 kilometer per liter atau bahan bakar setaranya.

Kedua, untuk motor nyala kompresi (diesel atau semi diesel ) dengan kapasitasisi silinder sampai 1.500 cc dan konsumsi bahan bakar minyak paling sedikit 20 kilometer per liter atau bahan bakar setaranya.