Siang Ini, Belo Negoro Kustomfest 2018 Mulai Diperebutkan

Kustomfest 2018.
06 Oktober 2018 11:00 WIB Galih Eko Kurniawan Otomotif Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Gelaran Kustomfest 2018 akan dibuka pada siang hari ini di Jogja Expo Center (JEC), Sabtu (6/10/2018). Sebagai lucky draw, panitia menghadirkan kustom motor bermesin Harley Davidson Sportster 883 Evolution yang dinamai Belo Negoro.

Motor ini dibangun di Retro Classic Cycles milik Direktur Kustomfest, Lulut Wahyudi. Rangka Belo Negoro menggunakan stock Harley Davidson Sportster Evolution. Ignition pada motor menggunakan dual ignition system Harley Davidson. Untuk karburatornya menggunakan Mikuni sedangkan exhaust memakai 2 in 2 freeflow berkonsep dragstyle yang didesain dan dibuat Retro Classic.

Lulut mengungkapkan pengerjaan Belo Negoro terinspirasi dari pesawat tempur era Perang Dunia II, yaitu Mustang P-51, dan digarap dalam waktu 28 hari. Pilihannya jatuh pada Harley-Davidson Sportster Evolution sebagai basis utama termasuk tetap mempertahankan sasis bawaannya dalam merealisasikan project khusus ini.

Dengan rekayasa engineering kuat serta didukung craftmanship mumpuni, motor lucky draw ini tampil stylish menonjolkan karakter tangguh. Fork depan stock Sportster yang dibuat rebah 6” adalah bagian yang menjadikannya tampil sedikit liar khas Retro Classic Cycles ditambah dengan desain setang curved-bar serta tangki model peanut.

 

Menurut Lulut Wahyudi, filosofi dari nama Belo Negoro ini pada intinya ingin memperlihatkan bahwa untuk menghormati perjuangan para pahlawan bisa dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya mengenalkan dunia dirgantara pada kalangan muda dan penggiat kustom kulture lainnya.      

Kustomfest 2018 yang mengambil tema Color of Difference coba diterjemahkan tema ini diharapkan menjadi sebuah refleksi dari kondisi bangsa saat ini yakni dengan banyaknya perbedaan diharapkan bisa menjadi sebuah kekuatan.

“Keberagaman adalah warna sekaligus potensi kita untuk lebih kuat bersatu demi bangsa seperti halnya para pahlawan pada jaman perjuangan dulu saat mereka bahu-membahu tanpa melihat perbedaan dalam mengusir penjajah. Melalui Color of Difference diharapkan menjadi pondasi kita sebagai penggiat kustom kulture ikut menghilangkan sekat-sekat yang berpotensi untuk memecah-belah persatuan demi kemajuan Indonesia,” ucap Lulut.