Lindungi Produk Domestik, Malaysia Pertimbangkan Pembatasan Impor Mobil Asing

Logo Proton - Bisnis Indonesia/Endang Muchtar
30 Juli 2018 21:30 WIB Aprianto Cahyo Nugroho Otomotif Share :
Adplus Tokopedia

Harianjogja.com, JAKARTA–Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad tengah mempertimbangkan pembatasan impor mobil asing untuk melindungi industri domestik. 

Negara dengan ekonomi terbesar ketiga di Asia Tenggara tersebut telah membebaskan industri otomotifnya selama satu dekade terakhir dan memungkinkan impor yang lebih murah, tetapi dengan mengorbankan produsen otomotif lokal Proton yang berjuang untuk tetap bertahan karena menghadapi persaingan yang semakin ketat. 

"Semua negara yang memproduksi kendaraan bermotor telah mendapat pembatasan, baik pada standar atau karena pajak, jadi kami perlu melindungi industri “bayi” kami," kata Mahathir pada konferensi pers di lobi parlemen, Senin (30/7/2018), seperti dikutip Reuters. 

"Kami mungkin berpikir tentang standar (untuk memaksakan). Kami juga mungkin harus mempertimbangkan kelemahan yang kami miliki yang harus dilindungi," ungkap kata perdana menteri berusia 93 tahun tersebut. 

Selain Proton, pabrikan otomotif Malaysia lainnya adalah Perodua dan Naza. Honda Motor Co, Toyota dan Nissan menjual unit yang diimpor dan dirakit secara lokal di negara Asia Tenggara. 

Perodua menjadi pemimpin pasar domestik, dengan pangsa pasar mencapai sekitar 40% pada tahun 2017, menurut data dari Asosiasi Otomotif Malaysia. Sementara itu, Honda menjadi merek asing terlaris di Malaysia, dengan sekitar 21% pangsa pasar tahun lalu. 

Proton didirikan pada 1983 selama masa jabatan Mahathir sebelumnya sebagai Perdana Menteri. Pangsa pasar domestik Proton memuncak pada 74% satu dekade kemudian ketika para pembeli mengambil keuntungan dari pinjaman murah setelah pemerintah mendorong Malaysia untuk membeli produk-produk domestik. 

Akan tetapi, Proton mencatat penurunan pangsa pasar domestik menjadi sekitar 14%, dipicu karena mobil dengan standar lebih rendah, layanan purna jual terbatas, dan persaingan dari produsen mobil asing. 

Proton menerima “nafas” tahun lalu, ketika produsen mobil Cina Zhejiang Geely Holding Group Co Ltd mengakuisisi 49,9% saham perusahaan. Kesepakatan tersebut menandai ekspansi pertama Geely ke Asia Tenggara. 

Sebelumnya, Mahathir mengatakan negara-negara maju telah menggunakan kondisi seperti standar emisi Euro 5 dan struktur pajak tertentu untuk mengatur perdagangan bebas dan mencegah ekspor mobil Malaysia. 

"Namun kami sangat terbuka. Setiap mobil yang diproduksi, bahkan jika dibuat menggunakan kaleng Milo, bisa masuk ke Malaysia," kata Mahathir. 

"Itulah mengapa kita perlu mempelajari kemungkinan kondisi tertentu, sehingga mobil asing tidak dapat masuk dengan mudah ke negara kita dan juga memberi Proton dan mobil lokal lain kesempatan untuk mendominasi pasar lokal," lanjutnya. 

Sumber : Bisnis Indonesia

Adplus Tokopedia