Pasar Mobil Bekas Mulai Ramai

Pasar mobil bekas di Asia Tenggara saat ini diestimasikan bernilai lebih dari US30 miliar. - Ist/Carsome
09 Mei 2018 09:30 WIB Rheisnayu Cyntara Otomotif Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Pasar mobil bekas di Jogja mulai ramai jelang Ramadan, salah satunya di Otobursa Sleman. Penjualan maupun pembelian di bursa mobil bekas Jalan Eks PJKA sepanjang dua kilometer tersebut mulai meningkat sejak dua minggu terakhir. 

Ketua Bidang Kegiatan Paguyuban Wisata Otobursa Sleman Subarjo HS mengatakan geliat pasar mobil bekas jelang Lebaran, terasa sejak sekarang. Subarjo menjelaskan pada minggu-minggu biasanya hanya ada sekitar 250 penjual mobil yang memasarkan mobil bekas miliknya. Namun pada dua minggu terakhir tercatat ada sekitar 300 mobil yang mengikuti otobursa yang diadakan setiap hari Minggu tersebut. Begitu pula dengan pembeli, menurutnya sejak dua minggu terakhir jumlah mobil yang laku terjual mencapai 30 unit dari biasanya sebanyak 20-24 unit saja. 

"Bahkan pembeli tidak hanya dari Jogja saja tetapi juga dari luar kota seperti Magelang, Purworejo, Banjarnegara, Boyolali, bahkan ada yang dari Malang. Mereka biasanya baca lewat online karena kami juga gencar promosi di online," katanya kepada Harian Jogja, Selasa (8/5). 

Subarjo mengakui mayoritas pembeli mencari mobil-mobil penumpang, bukan niaga. Menurutnya, hal itu disebabkan mereka membutuhkan mobil jenis tersebut untuk mudik saat Lebaran nanti. Belajar dari pengalaman tahun-tahun sebelumnya, ia menuturkan tren kenaikan penjualan ini biasanya akan terus berlangsung saat Ramadan dan mencapai puncaknya pada dua minggu sebelum Lebaran. 

Meski permintaan masyarakat terus meningkat, Subarjo menyebut tidak akan ada kenaikan harga mobil secara signifikan yang dilakukan penjual. Hal itu menjadi kesepakatan bersama para penjual yang bergabung di Otobursa Sleman. 

Menurutnya kebijakan itu untuk menjaga keberlangsungan Otobursa Sleman sebagai salah satu pasar mobil bekas yang jadi referensi masyarakat Jogja dan sekitarnya. Sebab jika dinaikkan dengan rumus aji mumpung, bukan tak mungkin masyarakat akan enggan datang kembali.