Mau Ekspor Kendaraan Niaga? Idealnya Memenuhi Ini

Pengunjung melihat-lihat produk pada Trade Exhibition for Auto Parts, Accessories and Vehicle Equip (INAPA) 2016 di Jakarta, Rabu (30/1). Gelaran INAPA merupakan pameran komponen otomotif dan karoseri terbesar di Asia Tenggara yang diikuti 1.100 perusahaan mewakili 25 negara. - Bisnis.com
08 Mei 2018 21:30 WIB Yudi Supriyanto Otomotif Share :

Harianjogja.com, JAKARTA—Guna mendukung upaya ekspor, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia menilai standar-standar pada kendaraan niaga di Indonesia perlu menyesuaikan standar dan ketentuan internasional. 

Ketua 1 Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Jongkie D. Sugiarto menuturkan sebaiknya kendaraan-kendaraan bermotor mobil, termasuk komersial, yang ada di dalam negeri mengikuti standar-standar yang dapat diterima oleh pasar internasional. “Kita harus terus mengadopsi standar-standar internasional, enggak bisa kita berkutat pada aturan Indonesia saja,” kata Jongkie kepada Jaringan Informasi Bisnis Indonesia, Senin (7/5/2018). 

Dia menjelaskan kendaraan niaga truk dan bus di dalam negeri yang masih menerapkan, salah satu contohnya, standar emisi atau gas buang Euro 2 akan sulit untuk diekspor mengingat beberapa negara sudah menerapkan Standar Euro 4. 

Sementara itu, pabrikan tidak mungkin membuat lini produksi khusus kendaraan komersial dengan Standar Euro 4 untuk pasar luar negeri dan lini produksi kendaraan niaga dengan Standar Euro 2 untuk domestik karena tidak efisien. 

Prinsipal, dia menilai, akan memilih negara-negara yang telah memiliki Standar Emisi Euro 4 sebagai basis produksi kendaraan komersialnya untuk ekspor ke negara lain lantaran akan lebih efisien. 

Di ASEAN, dia menjelaskan pasar domestik Thailand telah memenuhi standar-standar internasional sehingga prinsipal menjadikannya basis produksi untuk ekspor kendaraan niaga, dan membuat pengapalan kendaraan komersialnya pada tiga bulan pertama tahun ini cukup besar. 

Kemudian, para pabrikan kendaraan komersial di dalam negeri bisa berbicara dengan para prinsipalnya agar bisa melakukan pengapalan kendaraan niaga dari Indonesia ke beberapa negara lain mengingat ekspor sepenuhnya diatur oleh prinsipal. 

Saat ini, menurutnya, baru kendaraan niaga Hino yang melakukan pengapalan dari Indonesia. Akan tetapi, pengapalannya ke Vietnam terganggu. 

Pada tiga bulan pertama tahun ini, total ekspor kendaraan secara utuh atau completely built up (CBU) dari Indonesia ke negara-negara lain mencapai 55.976 unit, sementara ekspor CKD sebanyak 19.090 unit. 

Adapun pengapalan CBU Hino mencapai 610 unit pada Januari-Maret 2018, sementara pengapalan CKD nihil pada tiga bulan pertama tahun ini. 

Total ekspor kendaraan Thailand sepanjang tiga bulan pertama tahun ini mencapai 295.230 unit. Pengapalan kendaraan komersial terus mengalami peningkatan sejak Januari sampai Maret tahun ini. 

The Thai Automotive Industry Association (TAIA) mencatat, pengapalan kendaraan komersial pada Maret 2018 mencapai 73.423 unit atau naik 17,91% dibandingkan dengan ekspor pada bulan sebelumnya, yakni 62.271 unit. 

Pengapalan kendaraan komersial Thailand pada Februari tahun ini lebih besar dibandingkan dengan ekspor pada Januari 2018. TAIA mencatat, ekspor kendaraan niaga pada Februari sebesar 62.271 unit sementara pada Januari sebanyak 49.349 unit. 

Total pengapalan kendaraan komersial Thailand sepanjang tiga bulan pertama tahun ini mencapai 185.043 unit atau memberikan kontribusi 62,68% dari jumlah ekspor kendaraan pada Januari-Maret 2018.

Sumber : Bisnis Indonesia