Pembangunan Transformasi Umum yang Masif Mampu Geser Penjualan Mobil

Deretan mobil baru di terminal mobil, di Pelabuhan Tanjung Priok. - JIBI/Nurul Hidayat
13 April 2018 11:30 WIB Muhammad Khadafi Otomotif Share :

Harianjogja.com, JAKARTA–Pembangunan transportasi umum yang masif "mengancam" penjualan mobil. Dalam jangka panjang pabrikan otomotif memiliki kesempatan tumbuh di wilayah perdesaan tetapi sejumlah persoalan masih mengganjal.

Direktur Institute for Development of Economic and Finance (INDEF) Enny Sri Hartati mengatakan tidak ada pertumbuhan pada kelompok pengeluaran 40% terbawah. “Kemiskinan di perdesaaan tidak mengalami perubahan signfikan,” katanya dalam acara Pengembangan Pasar Domestik dan Meningkatkan Ekspor Kendaraan Bermotor di Jakarta, Kamis (12/4/2018).

Enny melanjutkan, di wilayah perdesaaan alokasi pendapatan untuk kebutuhan pokok sangat tinggi. Mobil yang masuk ke dalam kebutuhan sekunder, bahkan sebagian daerah, tersier akan sulit masuk ke dalam daftar konsumsi.

Selain itu di wilayah perdesaaan masih banyak diisi oleh sektor pekerjaan informal. Hal ini akan menjadi hambatan perusahaan pembiayaan untuk masuk. Padahal mengacu data saat ini sebagian besar pembelian mobil dilakukan melalui kredit.

“Kalau dilihat yang masih punya kesempatan itu mobil di bawah Rp200 juta. Kalau harga kendaraan bermotor masih banyak di atas Rp200 juta itu masih sulit untuk mendorong permintaan [di perdesaan],” katanya.

Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Jongkie D. Sugiarto mengatakan pasar otomotif Indonesia di luar Jawa bergerak positif. Meskipun begitu, Jawa masih menjadi kontributor penjualan mobil baru terbesar. Hal itu terlebih lagi terasa pada segmen kendaraan niaga dan mobil entry level. Percepatan pembangunan infrastruktur di banyak wilayah luar Jawa dan juga permintaan kendaraan bermotor hemat energi dan harga terjangkau (KBH2) menjadi satu faktor.

“Kami lihat daerah Jawa mulai stagnan. Ada pergeseran itu benar, tetapi belum terlalu signifikan,” katanya.

Marketing and After Sales Service Director PT Honda Prospect Motor (HPM) Jonfis Fandy mengatakan saat ini Honda memiliki sekitar 100 dealer yang tersebar dari Aceh sampai Papua. Berdasarkan analisa perusahaan, kehadiran KBH2 menjadi satu penyumbang permintaan mobil di daerah naik. Lazimnya, penjualan mobil di Jakarta berkontribusi lebih kurang 50% terhadap satu model.

Hal ini tidak terjadi pada penjualan KBH2. Jakarta hanya menyumbang 32% dari total penjualan mobil murah yang mendapat insentif pajak 0% dari pemerintah. “Artinya model ini menyebar ke daerah lain,” ujar Jonfis.

Hal yang menghambat laju pertumbuhan LCGC di daerah adalah faktor infrastruktur jalan. Apabila infrastruktur di daerah mendukung, Jonfis yakin pertumbuhan mobil murah akan jauh lebih tinggi dibandingkan saat ini.

Sumber : Bisnis Indonesia